Adab dalam Menuntut Ilmu, Harmoni Tradisi Pesantren
Adab Perspektif Al-Qur’an, Hadits, dan Tradisi Pesantren
Adab dapat dipahami sebagai tata cara berperilaku yang mencakup tutur kata, tindakan, dan sikap yang baik. Secara bahasa, adab bermakna kesopanan, kehalusan budi, atau etika pergaulan. Dalam khazanah bahasa Arab, kata adab berasal dari akar kata adaba–ya’dubu yang pada mulanya berarti mengundang atau mengajak.Secara terminologis, adab merujuk pada seperangkat norma atau pedoman kesopanan yang berlandaskan ajaran agama, khususnya dalam tradisi Islam. Adab memiliki peran penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam proses menuntut ilmu. Menjaga adab saat belajar diyakini dapat membuat ilmu yang diperoleh menjadi lebih bermanfaat dan membawa keberkahan.
Dalam tradisi Islam, adab dalam mencari ilmu bahkan ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi dibanding sekadar penguasaan materi. Adab menjadi faktor yang sangat memengaruhi keberhasilan proses belajar itu sendiri. Dengan menerapkan adab yang baik, pemahaman dan penerapan ilmu akan menjadi lebih mudah dan efektif. Oleh karena itu, seorang penuntut ilmu harus memperhatikan tata cara dan adab dalam belajar, karena kegiatan yang ia lakukan merupakan bagian dari ibadah.
Surah Al-Mujadalah ayat 11 menjadi salah satu ayat yang menegaskan keutamaan orang berilmu serta pentingnya bersikap rendah hati dan menjaga adab selama proses menuntut ilmu. Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا ۚ يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah; niscaya Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
Ayat ini menekankan bahwa ilmu yang sesungguhnya bermanfaat adalah ilmu yang disertai iman dan diterapkan dengan adab. Selain itu, ayat tersebut menjadi landasan penting dalam mengaitkan etika atau adab dengan proses belajar, sekaligus menyoroti pentingnya sikap yang benar saat seseorang menuntut pengetahuan.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Al-Bukhari:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan menegaskan bahwa pembentukan akhlak yang baik merupakan tujuan utama dari misi kenabian serta pendidikan dalam Islam. Dalam tradisi pesantren, adab dalam menuntut ilmu mencakup beberapa hal penting. Pertama, niat yang tulus, yakni menuntut ilmu semata-mata karena Allah, bukan untuk kesombongan atau kepentingan duniawi. Kedua, ta’dhim atau penghormatan terhadap guru, di mana KH. Hasyim Asy’ari menekankan bahwa guru harus dimuliakan sebagaimana kita memuliakan ilmu itu sendiri. Ketiga, sabar dan konsistensi dalam belajar. Keempat, menjaga akhlak dalam pergaulan sehari-hari. Kelima, mengamalkan ilmu yang diperoleh agar bermanfaat. Imam Syafi’i dalam salah satu syairnya berkata:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيْعٍ سُوْءَ حِفْظِيْ فَأَرْشَدَنِيْ إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِيْ
Artinya: “Aku mengadu kepada Waki’ tentang buruknya hafalanku, maka ia menasihati agar aku meninggalkan maksiat.” Syair ini menekankan kaitan yang kuat antara adab, akhlak, dan mutu pembelajaran. Tingkat keberhasilan dalam menuntut ilmu sangat dipengaruhi oleh perilaku dan etika seseorang. Hambatan dalam belajar atau menghafal dapat diatasi dengan memperbaiki sikap dan menjauhi perbuatan dosa, karena ilmu yang bermanfaat hanya dapat diraih oleh mereka yang beradab dan berakhlak mulia.
