Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Warisan Perilaku Orang Tua Membentuk Masa Depan Anak


 Tak semua warisan berbentuk harta, tanah, atau emas. Ada warisan yang tak terlihat mata, namun pengaruhnya jauh lebih panjang umur—yakni amal dan perilaku orangtua. Baik itu ucapan yang kerap terucap di rumah, kebiasaan ibadah, atau sebaliknya, kelalaian dalam menjaga hati dan lisan—semuanya akan meninggalkan bekas mendalam pada jiwa anak. Seringkali, anak tumbuh menjadi cerminan nyata dari amal kedua orang tuanya, entah dalam kebaikan yang mengharumkan atau keburukan yang menjerumuskan. Pertanyaannya, sudahkah kita memikirkan “warisan tak tertulis” yang kelak akan mereka bawa?

Pada kesempatan kali ini, kita akan menelusuri pandangan para ulama salaf tentang betapa erat hubungan amal orang tua dengan perjalanan hidup anak-anak mereka. Kita akan melihat bagaimana para ulama menggambarkan, dengan dalil dan hikmah, bahwa amal baik dapat menjadi tameng dan penerang bagi keturunan, sementara amal buruk bisa menjadi beban yang diwariskan tanpa disadari.

Dari nasihat-nasihat emas para ulama salaf inilah kita akan belajar, bahwa setiap perbuatan kita hari ini bukan hanya menentukan nasib kita sendiri, tetapi juga bisa membentuk masa depan generasi berikutnya. Oleh sebab itu, perlu untuk memperhatikan tindak laku yang sehari-hari kita lakukan.

Jejak Amal Orang Tua dalam Pandangan Ulama Salaf

Salah satu ulama kontemporer yang atensinya cukup besar dalam dunia pendidikan anak adalah Mustafa bin ‘Adawi bin Ahmad al-Syalbayah pernah membuat satu statement cukup menarik di dalam salah satu karangannya, Fiqh Tarbiah al-Abna’ sebagaimana berikut:

لِصَلاحِ الْوَالِدَيْنِ وَأَعْمَالِهِمَا الصَّالِحَةِ عَظِيمُ الْأَثَرِ فِي صَلاحِ الْأَبْنَاءِ وَنَفْعِهِمْ فِي الدُّنْيَا، بَلْ وَفِي الْآخِرَةِ كَذَلِكَ

Artinya: “Keshalehan kedua orangtua dan amal-amal saleh mereka memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk keshalehan anak-anak dan memberi manfaat bagi mereka di dunia, bahkan juga di akhirat.”

Jadi, kalau orang tua rajin beribadah, menjaga ucapan, jujur, dan punya kebiasaan baik, itu bukan cuma membawa kebaikan untuk dirinya sendiri. Anak-anaknya pun akan ikut merasakan dampaknya. Bukan hanya soal mereka jadi meniru perilaku orangtuanya, tapi Allah juga memberi keberkahan hidup pada anak karena amal orang tua tadi.

Kadang kita melihat, ada anak yang jalannya terasa dimudahkan, hatinya lembut, atau hidupnya terjaga dari banyak keburukan—itu bisa jadi buah dari doa dan amal baik orang tuanya. Dan yang lebih luar biasa, manfaat itu nggak cuma berhenti di dunia, tapi akan berlanjut sampai akhirat. Tapi, kita juga tidak boleh menutupi kemungkinan sebaliknya. Dalam arti, kejelekan yang dilakukan orangtua juga dapat memberikan efek negatif kepada anak mereka. Sebagaimana penjelasan Mustafa al-Syalbayah di dalam buku yang sama:

وَكَذَلِكَ فَلِلْأَعْمَالِ السَّيِّئَةِ وَالْمُوبِقَاتِ الَّتِي يَقُومُ بِهَا الْآبَاءُ وَالْأُمَّهَاتُ أَثَرٌ سَيِّئٌ عَلَى تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ

Artinya: “Demikian pula, perbuatan-perbuatan buruk dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh para ayah dan ibu memiliki pengaruh buruk terhadap pendidikan dan pembinaan anak-anak.”

Kalau orang tua terbiasa melakukan keburukan—misalnya suka bohong, kasar, malas ibadah, atau bahkan terjerumus ke dosa besar—itu akan sangat memengaruhi anak. Anak bukan hanya bisa meniru perilaku tersebut, tapi juga akan tumbuh dengan pola pikir dan kebiasaan yang rusak. Lebih dari itu, dosa orangtua bisa mendatangkan dampak buruk yang Allah turunkan ke keluarganya, seperti hilangnya keberkahan, munculnya masalah rumah tangga, atau anak jadi sulit diarahkan. Jadi, keburukan orangtua itu ibarat racun yang diam-diam menetes ke dalam kehidupan anak

Logika Ilmiah di Balik Warisan Perilaku

Untuk memperjelas keterangan di atas, mungkin kita bisa melihat kisah nabi Khidr dan nabi Musa yang diceritakan oleh Allah Swt. di dalam surah al-Kahfi sebagaimana berikut:

وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَه كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًاۚ

Artinya: “Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang saleh.” [QS. Al-Kahfi: 82].

Ayat di atas adalah jawaban nabi Khidr atas tawaran nabi Musa mengenai upah yang selayaknya diberikan kepada nabi Khidr atas usahanya menegakkan kembali dinding rumah yang hampir roboh. Sebab, masyakarat di sekitar wilayah tersebut tidak ada yang memberikan pelayanan, baik berupa makanan, atau yang lainnya kepada mereka. Walhasil, nabi Musa berpikir memang seharusnya nabi Khidr mendapat upah.

Namun, poin dari penulis bukan konteks di atas. Akan tetapi, fokus pada harta anak yatim yang masih tersimpan aman, terpendam di bawah dinding, meski kedua orangtuanya sudah meninggal. Imam Ibnu Katsir, di dalamTafsir al-Quran al-‘Azhim menjelaskan:

وَقَوْلُهُ: ﴿وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا﴾ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ الصَّالِحَ يحفظ في ذريته وتشمل بركة عِبَادَتِهِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِشَفَاعَتِهِ فِيهِمْ وَرَفْعِ دَرَجَتِهِمْ إِلَى أَعْلَى دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ لِتَقَرَّ عَيْنُهُ بِهِمْ

Artinya: “Ayat ini menjadi dalil bahwa seorang laki-laki yang saleh, maka Allah Swt. akan menjaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan bermanfaat bagi keturunan, baik di dunia atau akhirat, dengan syafaatnya untuk mereka, dan diangkatnya derajat mereka ke derajat yang lebih tinggi di surga agar ia merasa bahagia (dengan berkumpulnya mereka).” [Tafsir al-Quran al-‘Azhim, juz 05 hal. 186].

Dari keterangan di atas, maka bisa dipahami bahwa kebaikan yang dilakukan oleh orang tua, akan memberikan efek positif bagi anak keturunan mereka. Salah satunya terbukti dengan cerita di atas. Allah Swt. menjaga harta warisan anak yatim, bahkan ketika terpendam di tanah yang begitu dalam. Sebagaian ulama mempertegas, bahwa keberkahan orangtua bisa dinikmati, hingga tujuh turunan.

وَكَانَ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الْأَبِ الَّذِي حُفِظَا بِهِ سَبْعَةُ آبَاءٍ

Artinya: “Dan antara keduanya dengan ayah yang karenanya mereka berdua dijaga (oleh Allah) terdapat tujuh generasi (keturunan).”

Oleh sebab itu, sebagai orangtua, sangat perlu diperhatikan, bahwa segala tindak laku kita akan memberikan efek, sekecil apapun, kepada anak keturunan. Oleh sebab itu, perlu untuk memperbaiki segala tindak laku, sehingga kita sebagai orangtua akan benar-benar menghasilkan keturunan yang sesuai harapan agama Islam.

Lokasi Kami