Cara Rumi Menghadapi Overthingking
Kecemasan yang berlebihan (overthinking) dan kecenderungan untuk terus-menerus mengonsumsi berita negatif secara daring (doomscrolling) adalah dua gejala psikologis yang mendominasi era digital kontemporer. Keduanya berakar pada kegelisahan batin dan upaya pikiran yang tak pernah berhenti mencari kepastian di tengah ketidakpastian informasi. Ketika pikiran terus berputar pada kemungkinan terburuk dan jari tak henti menggulir layar, individu terjebak dalam siklus ruminasi yang menguras energi mental dan spiritual. Menariknya, masalah kegelisahan mental ini bukanlah hal baru. Tujuh abad yang lalu, Jalaluddin Rumi telah menawarkan solusi puitis dan filosofis yang mendalam untuk mengatasi gejolak batin tersebut, jauh sebelum media sosial ditemukan.
Menurut Rumi, akar dari overthinking adalah keterikatan yang berlebihan pada diri sendiri serta suara-suara negatif dalam pikiran yang terus berulang. Dalam meditasi dan renungannya, Rumi mengajarkan proses melepaskan pusat diri, yaitu sebuah kemampuan untuk melihat pikiran tanpa harus mengikutinya. Dengan melepaskan pusat diri, kita belajar menjadi pengamat, bukan tawanan dari arus pikiran. Pendekatan Rumi ini selaras dengan praktik mindfulness modern yang banyak digunakan dalam terapi untuk meredakan cemas dan kegelisahan. Ketika kita mampu mengambil jarak dari pikiran yang menyesatkan, kita dapat menuntunnya kembali menuju ketenangan dan kejernihan batin.
Akar kecemasan terletak pada ego (nafs), yaitu bagian diri yang selalu ingin mengatur segalanya, mencari pengakuan, dan tak pernah kenyang akan informasi. Overthinking muncul ketika ego berusaha mengendalikan kenyataan melalui analisis yang berlebihan. Rumi menawarkan jalan keluar berupa transendensi, yaitu memindahkan pusat perhatian dari keinginan ego yang sementara menuju kedekatan dengan Ruh yang lebih luhur dan abadi. Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya bukan sekadar tumpukan pikiran yang gelisah, ia dapat melepaskan dorongan untuk terus memantau atau mengontrol dunia luar. Kesadaran ini menghadirkan kebebasan batin, yaitu penerimaan bahwa banyak hal memang berada di luar kuasa kita dan justru inilah obat terbaik untuk menghentikan lingkaran doomscrolling.
Rumi juga mengajarkan bahwa cara keluar dari lingkaran overthinking adalah dengan mengalihkan perhatian dari diri sendiri menuju kepedulian pada orang lain. Ia menyebut proses ini sebagai “jihad dalam diri,” yaitu perjuangan melawan ego dan dorongan-dorongan batin yang membuat pikiran terus gelisah. Bagi Rumi, ketenangan tidak hanya tercipta dengan menjauhi hal-hal negatif, tetapi juga dengan memenuhi ruang hati dengan kasih, syukur, dan kebaikan. Ajaran ini membuka jalan bagi tumbuhnya empati dan keterhubungan dengan sesama manusia.
Dengan merujuk pada karya-karya besar Rumi seperti Masnawi, Fihi Ma Fihi, serta temuan riset spiritual kontemporer, tampak jelas bahwa ajaran Rumi sangat relevan untuk meredakan pikiran yang dilanda overthinking akibat doomscrolling. Alih-alih membiarkan diri terjebak dalam lingkaran waswas dan aliran kecemasan tanpa henti, Rumi mengajak kita untuk berani melepaskan beban pikiran, menenangkan hati dengan cinta, serta mengalihkan fokus dari diri sendiri menuju kepedulian pada sesama dan ekspresi seni. Dengan cara ini, jiwa menemukan ruang untuk bernapas dan kembali merasakan kedamaian.
Salah satu cara Rumi meredakan gejolak batin adalah melalui seni, yaitu melalui puisi, musik, dan tarian Sama’ yang berputar. Baginya, emosi yang kuat bukan untuk ditekan, tetapi diubah menjadi energi kreatif yang menyembuhkan, bukan menjadi racun yang menggerogoti jiwa. Aktivitas seperti menulis, menari, melukis, atau bahkan memasak dapat menjadi jembatan yang memindahkan energi overthinking dari kepala ke gerakan dan tindakan nyata. Ini adalah pendekatan yang sangat praktis, dibanding tenggelam pasif dalam doomscrolling, seseorang diajak untuk menciptakan sesuatu yang bermakna. Proses berkarya itu sendiri membuat pikiran fokus pada saat ini, dan pada akhirnya menghadirkan ketenangan serta rasa hidup yang kembali utuh di dalam diri.
