Jangan Biarkan Sedih Berlarut, Ini Doa yang Diajarkan Rasulullah
Kehidupan merupakan sesuatu yang unik. Berjalan tanpa kita ketahui apa dan bagaimana akhirnya. Hidup pun juga tidak bisa ditebak, terkadang kita merasa bahagia, tetapi tidak jarang juga air mata yang harus menjadi cerita. Dan manusia yang notabene khalifah di muka bumi, pada hakikatnya memang diciptakan untuk beribadah kepada Allah ta`ala. Karena hal ini, maka sudah tidak diragukan lagi manusia pasti akan mendapatkan banyak ujian dan kesedihan. Ada ujian yang berbentuk kenikmatan, dan tidak sedikit ujian itu harus berbentuk musibah. Dan semua kesedihan dan musibah itu akan menjadi pahala bagi orang-orang yang sabar dan rida akan takdir Allah.
Diuji memang bukan hal yang mudah. Bayangkan saja, insan mana yang bahagia jika harus dihadapi dengan musibah-musibah yang hadirkan sesak di dada? Namun, di balik sulitnya bersabar atas musibah, ternyata berpuluh-puluh bahkan beribu-ribu tahun terdahulu, Islam dengan indahnya mengajarkan seni menghadapi musibah dan kesedihan. Allah ta’ala yang lewat lisan Rasulullah –shallahu `alaihi wa sallam– telah mengajarkan umatnya untuk tegar dan kuat di tengah badai kesedihan yang melanda. Lantas, apa yang harus kita lakukan ketika kesedihan itu datang?
Sebagai seorang muslim, tentu kita harus meyakini bahwa semua kesedihan dan musibah yang kita alami merupakan takdir dari Allah ta`ala. Dan bukan hanya itu, kita harus bisa meyakini bahwa semua takdir itu memiliki hikmah yang mungkin memang belum kita ketahui. Selain itu, ada doa yang diajarkan Rasulullah –shallallahu `alaihi wa sallam– ketika kesedihan datang melanda, doa itu berlafaz:
اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، اِبْنُ عَبْدِكَ، اِبْنُ أَمَّتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اِسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ اِسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلَاءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ
“Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hamba-Mu, anak dari hamba-Mu laki-laki, dan anak dari hamba-Mu perempuan. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu (Engkau yang menguasai diriku), keputusan-Mu berlaku padaku, dan ketetapan-Mu adil terhadapku. Aku memohon kepada-Mu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang Engkau namai diri-Mu dengannya, atau yang Engkau turunkan dalam Kitab-Mu, atau yang Engkau ajarkan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, atau yang Engkau rahasiakan dalam ilmu gaib di sisi-Mu, agar Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penghidup hatiku, cahaya dadaku, penghapus kesedihanku, dan penghilang kegelisahan serta kesusahanku.” (H.R. Ahmad)
Dan doa yang kedua:
((اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ والْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ))
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari lilitan utang, dan dari tekanan (atau penindasan) manusia.”
Dua doa ini mengajarkan kita bahwa penawar kesedihan adalah dengan kembali kepada Allah dan menyerahkan semua urusan hanya kepada-Nya (Bertawaakkal). Namun, yang perlu digarisbawahi, tawakkal kepada Allah harus dilakukan dengan keyakinan penuh. Dan kita juga harus ingat, bahwa Allah pasti bisa memberi jalan keluar semua permasalahan yang kita hadapi.
Tidakkah cukup untuk dijadikan pelajaran kisah ibu Musa yang bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenarnya? Ibu Musa di saat itu tanpa ragu membuang Musa yang masih bayi ke sungai karena tekanan dan ancaman Fir`aun yang ingin membunuh semua anak laki-laki yang lahir. Dan pada akhirnya Allah mengembalikan Musa kepada ibunya dan terbalaslah keyakinannya bahwa Allah akan memberinya jalan keluar dengan cara yang tidak pernah ia pikirkan.
Ada satu kisah yang terjadi antara dua orang yang berteman. Satu di antara mereka pernah berkata: “Aku menginfakkan hartaku, dan hartaku bertambah.” Karena perkataan ini, temannya juga menginfakkan hartanya, namun apa yang terjadi? Dia berkata, “Aku menginfakkan hartaku, tapi hartaku tidak bertambah seperti hartamu yang bertambah.”
Dengan tersenyum, temannya berkata, “Aku menginfakkan hartaku dengan keyakinan yang penuh bahwa Allah akan memberkahinya dan menambahnya, dan engkau menginfakkan hartamu seperti seorang pedagang yang melakukan perniagaan, dan ia berkata bahwa dia akan menjadikan hartanya sebagai modal usaha, dan jika dia benar dalam strategi maka akan mendapatkan keuntungan, dan jika strateginya salah dan rugi maka akan mencoba strategi lain.”
Kenyakinan seperti ini bukanlah keyakinan yang seharusnnya dimiliki oleh seorang muslim. Muslim yang sebenarnya adalah dia yang menyerahkan dirinya dengan sepenuh keyakinan kepada Allah di saat musibah datang menimpa.
