Dalam perjalanan menuntut ilmu, seorang pelajar tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga adab, kesabaran, dan keikhlasan. Salah satu ulama besar yang banyak memberikan nasihat tentang ilmu adalah Imam Syafi’i. Beliau dikenal bukan hanya karena keluasan ilmunya, tetapi juga karena kebijaksanaan dan kedalaman akhlaknya.
Imam Syafi’i pernah menyampaikan bahwa ilmu tidak akan diberikan kepada orang yang bermaksiat. Dalam sebuah nasihat yang masyhur, beliau mengadukan kepada gurunya tentang sulitnya menghafal, lalu dinasihati agar meninggalkan maksiat. Karena ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada hati yang kotor. Pesan ini mengajarkan bahwa keberkahan ilmu sangat terkait dengan kebersihan hati dan ketakwaan.
Selain itu, beliau juga menekankan pentingnya kesabaran dalam menuntut ilmu. Ilmu tidak datang dalam semalam. Ia membutuhkan waktu, pengorbanan, dan ketekunan. Dalam salah satu perkataannya, Imam Syafi’i menyebutkan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, di antaranya kecerdasan, semangat, kesabaran, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang panjang. Ini menunjukkan bahwa proses adalah bagian penting dari keberhasilan.
Imam Syafi’i juga mengingatkan tentang pentingnya adab sebelum ilmu. Penuntut ilmu harus menghormati guru, menjaga lisan, dan bersikap rendah hati. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan. Sebaliknya, ilmu yang disertai akhlak akan membawa manfaat besar bagi diri sendiri maupun orang lain.
Pesan bijak lainnya adalah tentang keikhlasan. Menuntut ilmu bukan untuk dipuji, bukan untuk berdebat demi kemenangan, dan bukan untuk mencari kedudukan. Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk semakin dekat kepada Allah dan memberi manfaat kepada umat. Ketika niat lurus, maka Allah akan memudahkan jalan dan memberkahi ilmu tersebut.
Nasihat-nasihat Imam Syafi’i tetap relevan hingga hari ini. Di tengah kemudahan akses informasi, penuntut ilmu tetap harus menjaga hati, memperbaiki niat, dan bersabar dalam proses. Karena sejatinya, ilmu bukan hanya tentang banyaknya pengetahuan, tetapi tentang perubahan diri menuju pribadi yang lebih bertakwa dan berakhlak mulia.
Semoga kita termasuk penuntut ilmu yang tidak hanya mencari kepandaian, tetapi juga keberkahan, sebagaimana yang diajarkan oleh Imam Syafi’i.