Masihkah Kita Dekat dengan Al-Qur’an di Tengah Kesibukan?
Di tengah padatnya aktivitas harian—pekerjaan yang menumpuk, gawai yang tak lepas dari genggaman, serta waktu istirahat yang terasa begitu singkat—kita patut bertanya pada diri sendiri: masihkah kita benar-benar dekat dengan Al-Qur’an? Ataukah ia hanya hadir sebagai hiasan di rak, dibaca sesekali ketika ada waktu luang, bukan sebagai kebutuhan ruhani yang selalu dirindukan?
Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, melainkan petunjuk hidup yang Allah turunkan untuk menenangkan hati dan membimbing langkah manusia. Allah ﷻ berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra‘d: 28)
Mengingat Allah salah satunya adalah dengan membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an. Namun sering kali, kesibukan dunia membuat jarak itu perlahan melebar. Kita merasa lelah untuk membuka mushaf, padahal hati justru semakin lelah karena jauh dari firman-Nya.
Rasulullah ﷺ bahkan mengingatkan adanya kelak aduan beliau kepada Allah tentang umatnya yang menjauh dari Al-Qur’an. Dalam firman Allah:
“Dan Rasul berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini sesuatu yang ditinggalkan.’”(QS. Al-Furqan: 30)
Meninggalkan Al-Qur’an bukan hanya berarti tidak membacanya, tetapi juga tidak mentadabburinya, tidak menjadikannya pedoman, dan tidak menghadirkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Padahal, keutamaan orang yang dekat dengan Al-Qur’an begitu besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”(HR. Bukhari)
Kedekatan dengan Al-Qur’an tidak selalu menuntut waktu yang panjang. Beberapa ayat di sela kesibukan, satu halaman sebelum tidur, atau mendengarkannya dengan penuh penghayatan pun sudah menjadi langkah mendekat. Yang terpenting adalah menjaga hubungan itu agar tidak terputus.
Maka, di tengah kesibukan yang terus mengejar, mari kembali bertanya dengan jujur: sudahkah hari ini Al-Qur’an menyapa hati kita? Jika belum, mungkin inilah saatnya kita meluangkan sedikit waktu—bukan karena kita punya waktu, tetapi karena kita butuh Al-Qur’an untuk hidup yang lebih tenang dan terarah.
