Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kisah Qarun dan Bahaya Terlena oleh Harta


 Harta merupakan salah satu nikmat yang diberikan Allah Swt. kepada manusia. Dengan harta, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidup, membantu keluarga, bersedekah, menolong orang lain, dan melakukan berbagai kebaikan. Namun, harta juga dapat menjadi ujian ketika seseorang mulai mencintainya secara berlebihan hingga melupakan siapa yang sebenarnya memberikan semua kenikmatan tersebut.

Salah satu kisah yang menggambarkan bahaya terlena oleh harta adalah kisah Qarun. Kisah ini disebutkan dalam Al-Qur’an, khususnya dalam Surah Al-Qashash. Qarun merupakan seseorang yang berasal dari kaum Nabi Musa a.s. Allah memberinya kekayaan yang sangat besar, tetapi kekayaan tersebut justru membuatnya lupa diri.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَىٰ فَبَغَىٰ عَلَيْهِمْ

“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, tetapi dia berlaku zalim terhadap mereka.”

(QS. Al-Qashash: 76)

Al-Qur’an menggambarkan betapa besar kekayaan yang dimiliki Qarun. Bahkan, kunci-kunci gudang hartanya disebutkan sangat berat untuk dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. Gambaran tersebut menunjukkan betapa melimpahnya harta yang dimiliki Qarun pada saat itu.

Namun, kekayaan yang begitu besar tidak membuat Qarun semakin rendah hati. Sebaliknya, ia justru menjadi sombong dan membanggakan apa yang dimilikinya.

Ketika kaumnya memberikan nasihat, Qarun mengatakan bahwa harta tersebut diperolehnya karena ilmu dan kemampuan yang ada pada dirinya. Allah mengabadikan perkataannya:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِي

“Dia (Qarun) berkata, ‘Sesungguhnya aku diberi (harta) itu semata-mata karena ilmu yang ada padaku.’”

(QS. Al-Qashash: 78)

Perkataan tersebut menunjukkan adanya kesalahan dalam memandang nikmat. Qarun melihat kekayaan sebagai hasil dari kehebatan dirinya sendiri. Ia tidak menyadari bahwa kemampuan, kesempatan, kesehatan, ilmu, dan segala sebab yang mengantarkannya kepada kekayaan pada hakikatnya merupakan bagian dari nikmat Allah.

Ketika Harta Menjadi Sumber Kesombongan

Memiliki banyak harta bukanlah sebuah kesalahan. Islam tidak mengajarkan bahwa seorang Muslim harus hidup dalam kemiskinan agar dekat dengan Allah. Yang menjadi persoalan adalah ketika harta menguasai hati dan membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Qarun menjadi contoh bahwa seseorang dapat memiliki kekayaan yang sangat besar, tetapi kehilangan sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu kerendahan hati dan kesadaran bahwa semua nikmat berasal dari Allah.

Kaumnya telah mengingatkannya agar tidak berlebihan dalam menggunakan kekayaannya:

“Janganlah engkau terlalu bangga. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang membanggakan diri.”

(QS. Al-Qashash: 76)

Mereka juga mengingatkan Qarun agar menggunakan apa yang diberikan Allah untuk memperoleh kebahagiaan akhirat, tanpa melupakan bagian seseorang dari kehidupan dunia.

Nasihat tersebut sangat relevan bagi kehidupan manusia saat ini. Seseorang dapat bekerja keras untuk mendapatkan kekayaan, membangun bisnis, memiliki rumah, kendaraan, dan berbagai fasilitas. Semua itu boleh menjadi bagian dari kehidupan. Namun, jangan sampai keberhasilan materi membuat seseorang lupa bersyukur, meremehkan orang lain, atau meninggalkan kewajiban kepada Allah.

Qarun Memamerkan Kekayaannya

Pada suatu hari, Qarun keluar di hadapan kaumnya dengan kemewahan yang dimilikinya. Al-Qur’an menggambarkan bahwa orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia kemudian berkata:

“Andaikata kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.”

(QS. Al-Qashash: 79)

Pemandangan tersebut menunjukkan bagaimana kemewahan dapat memengaruhi manusia. Ketika seseorang hanya melihat kehidupan dari sisi materi, kekayaan mudah dianggap sebagai ukuran keberhasilan dan kemuliaan.

Padahal, banyaknya harta tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang lebih mulia di hadapan Allah. Demikian pula, keterbatasan materi tidak otomatis berarti seseorang lebih rendah.

Ukuran kemuliaan manusia bukanlah jumlah kekayaan yang dimiliki, melainkan ketakwaannya kepada Allah.

Akhir dari Kesombongan Qarun

Kisah Qarun kemudian berakhir dengan peristiwa yang sangat menggetarkan. Allah menenggelamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi.

Allah Swt. berfirman:

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ

“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi.”

(QS. Al-Qashash: 81)

Orang-orang yang sebelumnya menginginkan kehidupan seperti Qarun akhirnya menyadari bahwa kekayaan bukanlah jaminan keselamatan. Mereka berkata bahwa seandainya Allah tidak melimpahkan karunia-Nya kepada mereka, mungkin mereka juga akan mengalami nasib yang sama.

Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa sesuatu yang tampak indah di mata manusia belum tentu menjadi tanda keberuntungan yang sebenarnya.

Harta Adalah Amanah

Dari kisah Qarun, kita dapat memahami bahwa harta pada dasarnya adalah amanah. Kekayaan dapat menjadi jalan menuju kebaikan apabila digunakan dengan benar. Sebaliknya, harta dapat menjadi sumber kehancuran apabila membuat seseorang sombong, lalai, dan melupakan Allah.

Orang yang memiliki harta seharusnya tidak hanya bertanya, “Berapa banyak yang saya miliki?”, tetapi juga bertanya, “Dari mana harta ini diperoleh dan untuk apa saya menggunakannya?”

Apakah harta tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan yang halal? Apakah sebagian darinya diberikan kepada orang yang membutuhkan? Apakah kekayaan membuat kita semakin bersyukur atau justru semakin sombong?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena manusia tidak hanya akan mempertanggungjawabkan cara memperoleh hartanya, tetapi juga bagaimana harta tersebut digunakan.

Jangan Sampai Kekayaan Menguasai Hati

Kisah Qarun bukanlah larangan untuk menjadi kaya. Justru yang perlu dihindari adalah kondisi ketika seseorang menjadi hamba dari hartanya sendiri.

Harta seharusnya berada di tangan, bukan menguasai hati. Ketika memiliki banyak, seorang Muslim tetap bersyukur. Ketika memiliki sedikit, ia tetap berusaha dan tidak berputus asa. Ketika mendapatkan keberhasilan, ia tidak melupakan Allah. Dan ketika memperoleh kekayaan, ia menggunakannya sebagai sarana untuk melakukan kebaikan.

Sebab pada akhirnya, semua yang dimiliki manusia akan ditinggalkan. Rumah, kendaraan, tabungan, jabatan, dan berbagai kemewahan dunia tidak akan dibawa ketika seseorang kembali kepada Allah.

Kisah Qarun mengingatkan kita bahwa kekayaan bukanlah masalah selama ia menjadi sarana kebaikan. Yang berbahaya adalah ketika kekayaan membuat hati lupa kepada Allah.

Maka, jika Allah memberikan rezeki yang luas, hendaknya kita memperbanyak syukur, memperhatikan hak orang lain, menjauhi kesombongan, dan menggunakan harta di jalan yang diridai-Nya. Sebab keberhasilan yang sesungguhnya bukanlah ketika seseorang memiliki banyak harta, tetapi ketika harta tersebut menjadi jalan untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan di akhirat.

Wallahu a'lam.

Lokasi Kami