Ikhtiar dan Tawakkal: Dua Kunci dalam Perjalanan Santri
Ikhtiar merupakan bentuk kesungguhan seorang santri dalam menjalani kewajibannya. Bangun lebih awal untuk menunaikan shalat, menghadiri majelis ilmu dengan penuh adab, menghafal dan mengulang pelajaran, serta menjaga disiplin adalah wujud nyata dari ikhtiar. Islam mengajarkan bahwa setiap manusia diperintahkan untuk berusaha sesuai kemampuannya. Allah SWT berfirman:
“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”(QS. An-Najm: 39)
Ayat ini mengajarkan bahwa hasil tidak akan datang tanpa usaha. Seorang santri dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam belajar dan beramal, tanpa bergantung pada keberuntungan semata.
Namun, ikhtiar saja tidaklah cukup. Dalam perjalanan yang penuh keterbatasan, seorang santri perlu menyadari bahwa hasil akhir berada dalam ketetapan Allah. Di sinilah tawakkal mengambil peran penting. Tawakkal adalah sikap berserah diri kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik. Dengan tawakkal, hati santri menjadi tenang, tidak mudah putus asa ketika menghadapi kegagalan, dan tidak sombong ketika meraih keberhasilan.
Rasulullah ﷺ pernah memberikan nasihat tentang keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal. Ketika seorang sahabat bertanya apakah untanya perlu diikat atau langsung bertawakkal, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakkallah.”(HR. Tirmidzi)
Hadits ini menegaskan bahwa tawakkal bukanlah alasan untuk meninggalkan usaha, melainkan penyempurna dari ikhtiar itu sendiri.
Dalam kehidupan pesantren, nilai ikhtiar dan tawakkal diajarkan melalui pembiasaan. Santri dilatih untuk berusaha maksimal dalam belajar, namun tetap menjaga keikhlasan dan ketenangan hati. Ketika hafalan terasa sulit, santri diajak untuk memperbanyak doa dan muroja’ah. Ketika hasil belum sesuai harapan, santri diajarkan untuk menerima dengan lapang dada dan tetap melanjutkan usaha.
Keseimbangan antara ikhtiar dan tawakkal membentuk kepribadian santri yang kuat. Mereka belajar bahwa keberhasilan bukan semata-mata hasil kecerdasan, tetapi buah dari kesungguhan, doa, dan ketergantungan kepada Allah. Sikap ini menjadi bekal penting bagi santri ketika kelak terjun ke tengah masyarakat, menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Sebagai penutup, ikhtiar dan tawakkal adalah dua kunci utama dalam perjalanan santri. Ikhtiar mengajarkan tanggung jawab dan kesungguhan, sementara tawakkal menanamkan ketenangan dan keikhlasan. Dengan memadukan keduanya, santri tidak hanya tumbuh sebagai pribadi yang berilmu, tetapi juga beriman dan berakhlak mulia.
