Ketika Al-Qur’an Menjadi Jawaban atas Kegelisahan
Ada masa dalam hidup ketika hati terasa penuh, pikiran lelah, dan langkah seakan kehilangan arah. Kita mencoba mencari ketenangan ke sana kemari—pada manusia, kesibukan, bahkan hiburan—namun gelisah itu tetap tinggal. Hingga suatu saat, tanpa banyak kata, Al-Qur’an hadir sebagai jawaban.
Al-Qur’an tidak selalu menghilangkan masalah, tetapi ia menenangkan hati yang menghadapi masalah. Ia tidak mengubah keadaan seketika, namun menguatkan jiwa agar mampu bertahan dan melangkah kembali.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini bukan sekadar nasihat, melainkan janji. Ketika Al-Qur’an dibaca dengan hati yang terbuka, perlahan kegelisahan itu mereda. Bukan karena semua persoalan selesai, tetapi karena hati menemukan sandaran yang benar.
Banyak orang menemukan kembali ketenangan saat menjadikan Al-Qur’an sebagai teman sunyi. Di waktu pagi yang sepi, atau malam yang panjang, ayat-ayat-Nya menjadi pelukan lembut bagi hati yang lelah. Dari situlah lahir kekuatan baru—bukan untuk melawan takdir, tetapi untuk menjalaninya dengan lapang.
