Mengapa Ilmu Tanpa Adab Sering Menimbulkan Masalah?
Ilmu merupakan salah satu hal penting dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami sesuatu, membedakan yang benar dan salah, serta mengambil keputusan dengan lebih bijaksana. Dalam Islam, menuntut ilmu memiliki kedudukan yang mulia karena dapat menjadi jalan untuk mengenal Allah Swt., memperbaiki ibadah, dan memberikan manfaat kepada sesama. Namun, ilmu tidak cukup hanya dipelajari dan dikuasai. Ilmu juga perlu disertai adab agar dapat digunakan dengan cara yang benar.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat menemukan orang yang memiliki pengetahuan luas, tetapi kesulitan menghargai pendapat orang lain. Ada pula orang yang pandai berbicara, tetapi perkataannya justru menyakiti hati orang di sekitarnya. Keadaan seperti ini mengingatkan kita bahwa kecerdasan dan banyaknya pengetahuan tidak selalu berjalan seiring dengan kematangan akhlak.
Lantas, mengapa ilmu tanpa adab sering menimbulkan masalah? Apa hubungan antara pengetahuan, sikap, dan perilaku seorang Muslim? Pertanyaan ini penting untuk direnungkan, terutama bagi siapa pun yang sedang menempuh perjalanan menuntut ilmu.
Memahami Makna Ilmu dan Adab
Ilmu adalah pengetahuan yang membantu seseorang memahami suatu perkara berdasarkan proses belajar, pengamatan, dan pemahaman. Sementara itu, adab berkaitan dengan sikap, tata krama, dan perilaku yang mencerminkan penghormatan terhadap Allah, sesama manusia, serta lingkungan.
Keduanya memiliki peran yang saling melengkapi. Ilmu membantu seseorang mengetahui apa yang perlu dilakukan, sedangkan adab membimbingnya agar pengetahuan tersebut diterapkan dengan cara yang tepat.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengetahui banyak dalil agama, tetapi jika ia menggunakannya untuk mempermalukan orang lain, pengetahuannya belum tercermin dalam perilaku yang baik. Sebaliknya, seseorang yang memiliki ilmu dan adab akan berusaha menyampaikan kebenaran dengan bijaksana, memperhatikan keadaan orang lain, serta menghindari perkataan yang merendahkan.
Adab bukan berarti seseorang harus selalu diam atau tidak boleh mengoreksi kesalahan. Menyampaikan kritik dan meluruskan kekeliruan tetap diperlukan. Akan tetapi, semua itu hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, berdasarkan pengetahuan yang benar, dan bertujuan memperbaiki keadaan, bukan sekadar menunjukkan keunggulan diri.
1. Ilmu Tanpa Adab Dapat Menumbuhkan Kesombongan
Salah satu masalah yang dapat muncul ketika seseorang memiliki pengetahuan tanpa disertai kerendahan hati adalah kesombongan. Ketika merasa lebih pintar daripada orang lain, seseorang mungkin mulai meremehkan pendapat yang berbeda, menganggap dirinya selalu benar, atau sulit menerima nasihat.
Padahal, semakin banyak seseorang belajar, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahui. Pengetahuan manusia memiliki batas, sedangkan ilmu Allah Swt. tidak terbatas.
Allah berfirman dalam Surah Yusuf ayat 76:
وَفَوْقَ كُلِّ ذِي عِلْمٍ عَلِيمٌ
Artinya: “Di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang lebih mengetahui.” (QS. Yusuf: 76).
Ayat ini mengingatkan bahwa seseorang tidak sepatutnya merasa paling mengetahui segala sesuatu. Selalu ada hal yang dapat dipelajari dan dipahami lebih dalam. Karena itu, ilmu hendaknya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.
Orang yang beradab akan memahami bahwa kelebihan yang dimilikinya merupakan amanah. Ia tidak menggunakan pengetahuannya untuk membangun jarak dengan orang lain, tetapi berusaha menjadikannya sebagai sarana untuk membantu dan memberikan manfaat.
2. Sulit Menerima Nasihat dan Kritik
Masalah lain yang dapat muncul adalah keengganan menerima nasihat. Seseorang yang terlalu bangga terhadap pengetahuannya terkadang menganggap koreksi sebagai serangan terhadap harga dirinya. Akibatnya, ia lebih sibuk mempertahankan pendapat daripada memeriksa apakah pendapat tersebut benar.
Sikap seperti ini dapat menghambat perkembangan diri. Padahal, proses belajar tidak berhenti ketika seseorang telah memperoleh gelar, menguasai suatu bidang, atau dikenal sebagai orang yang berilmu. Selama hidup, manusia tetap membutuhkan nasihat, pengalaman, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.
Adab mengajarkan seseorang untuk mendengarkan dengan baik sebelum menjawab, mempertimbangkan alasan yang disampaikan, serta bersedia mengakui kekeliruan jika memang terbukti salah.
Menerima kritik bukan berarti harus menyetujui semua perkataan orang lain. Kritik tetap perlu diperiksa kebenaran dan cara penyampaiannya. Namun, seseorang yang memiliki adab tidak langsung menolak suatu nasihat hanya karena nasihat tersebut datang dari orang yang lebih muda, kurang terkenal, atau memiliki pengetahuan yang berbeda dengannya.
3. Ilmu Dapat Disalahgunakan untuk Menyakiti Orang Lain
Pengetahuan pada dasarnya dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Akan tetapi, manfaatnya sangat bergantung pada bagaimana seseorang menggunakannya. Tanpa tanggung jawab moral, ilmu yang dimiliki justru dapat digunakan untuk memanipulasi, menipu, merendahkan, atau merugikan orang lain.
Dalam kehidupan modern, misalnya, seseorang yang memahami teknologi dapat menggunakan kemampuannya untuk membantu masyarakat. Namun, kemampuan yang sama juga dapat disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu atau melanggar privasi orang lain.
Begitu pula dalam pembelajaran agama. Pengetahuan tentang ayat Al-Qur’an dan hadis seharusnya membantu seseorang memahami ajaran Islam dengan lebih baik. Pengetahuan tersebut tidak semestinya dijadikan alat untuk mempermalukan orang yang sedang belajar, apalagi menyampaikan hukum tanpa memahami konteks dan penjelasannya.
Karena itu, semakin besar pengetahuan yang dimiliki seseorang, semakin penting pula tanggung jawab dalam menggunakannya. Ilmu seharusnya menjadi jalan untuk memperbaiki keadaan dan mengurangi keburukan, bukan menjadi sarana untuk menyakiti sesama.
4. Adab Menjaga Ilmu agar Bermanfaat
Ilmu yang bermanfaat tidak hanya terlihat dari banyaknya informasi yang dapat diingat, tetapi juga dari perubahan baik yang dihasilkan dalam kehidupan seseorang. Pengetahuan yang benar seharusnya membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih bijaksana, bersikap jujur, dan memahami tanggung jawabnya.
Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 36:
وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ
Artinya: “Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak engkau ketahui.” (QS. Al-Isra’: 36).
Ayat tersebut mengajarkan pentingnya kehati-hatian dalam menerima, meyakini, dan menyampaikan sesuatu. Seseorang tidak sepatutnya berbicara seolah-olah mengetahui suatu perkara apabila ia belum memahami kebenarannya.
Dalam praktiknya, adab terhadap ilmu dapat diwujudkan dengan memeriksa sumber informasi, tidak terburu-buru menyimpulkan, mengakui keterbatasan pengetahuan, dan tidak malu bertanya kepada orang yang lebih memahami suatu bidang.
Sikap ini sangat penting, terutama ketika membicarakan persoalan agama. Memahami satu ayat atau hadis saja tidak selalu cukup untuk menetapkan kesimpulan terhadap suatu persoalan. Diperlukan pemahaman yang menyeluruh, pengetahuan tentang konteks, serta kehati-hatian dalam menyampaikan pendapat.
5. Pentingnya Menghormati Guru dan Sesama Pencari Ilmu
Dalam tradisi pendidikan Islam, hubungan antara guru dan murid tidak hanya berkaitan dengan penyampaian materi pelajaran. Proses belajar juga melibatkan pembentukan karakter, kesungguhan, kesabaran, dan penghormatan terhadap pengetahuan.
Menghormati guru bukan berarti menganggap guru selalu benar atau tidak boleh memberikan koreksi. Guru tetap manusia yang dapat melakukan kesalahan. Namun, apabila terdapat perbedaan pendapat atau kekeliruan, hendaknya disampaikan dengan sopan dan berdasarkan alasan yang jelas.
Begitu pula ketika berdiskusi dengan sesama pencari ilmu. Perbedaan pandangan seharusnya menjadi kesempatan untuk memperluas pemahaman, bukan alasan untuk saling menghina. Seseorang dapat mempertahankan pendapatnya tanpa harus merendahkan orang yang berbeda pandangan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ
Artinya: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Hadis ini mengingatkan pentingnya kasih sayang dalam hubungan antarmanusia. Dalam kegiatan menuntut ilmu, sikap tersebut dapat diwujudkan dengan membantu orang yang belum memahami pelajaran, tidak menertawakan kesalahan orang lain, serta memberikan penjelasan dengan sabar.
Orang yang benar-benar ingin mengembangkan ilmu akan memahami bahwa setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami suatu pelajaran dan ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama. Karena itu, ilmu seharusnya menumbuhkan kepedulian, bukan menjadikan seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain.
6. Mengamalkan Ilmu dalam Kehidupan Sehari-hari
Salah satu cara menjaga agar ilmu tidak berhenti sebagai pengetahuan adalah dengan berusaha mengamalkannya. Apa yang dipelajari hendaknya tercermin dalam sikap dan keputusan sehari-hari, sesuai dengan kemampuan serta keadaan masing-masing.
Seseorang yang mempelajari kejujuran, misalnya, perlu berusaha berkata benar dan menghindari penipuan. Orang yang memahami pentingnya menjaga lisan hendaknya berhati-hati ketika berbicara. Sementara itu, orang yang mempelajari ajaran tentang tolong-menolong dapat menerapkannya dengan membantu orang lain sesuai kemampuannya.
Allah Swt. memberikan peringatan dalam Surah As-Saff ayat 2–3 kepada orang-orang beriman agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak mereka kerjakan. Ayat ini mengajarkan pentingnya keselarasan antara ucapan dan tindakan.
Mengamalkan ilmu bukan berarti seseorang harus langsung menjadi sempurna. Setiap manusia memiliki kekurangan dan masih membutuhkan proses perbaikan. Hal terpenting adalah adanya kesungguhan untuk menjadikan pengetahuan sebagai pedoman, bukan sekadar bahan pembicaraan.
Dengan demikian, keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari seberapa banyak seseorang mengetahui sesuatu, tetapi juga dari kesediaannya menerapkan pengetahuan tersebut secara bertanggung jawab.
Penutup
Ilmu dan adab merupakan dua hal yang perlu berjalan beriringan. Ilmu membantu seseorang memahami kebenaran, sedangkan adab membimbingnya agar menggunakan pengetahuan dengan bijaksana. Tanpa adab, seseorang dapat terjebak dalam kesombongan, sulit menerima nasihat, atau menyalahgunakan pengetahuan yang dimilikinya.
Sebaliknya, ketika ilmu disertai adab, seseorang akan lebih berhati-hati dalam berbicara, menghargai orang lain, dan bersedia terus belajar. Ia tidak menjadikan pengetahuan sebagai alasan untuk merasa paling benar, tetapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan memberikan manfaat bagi sesama.
Oleh karena itu, jangan hanya berusaha menjadi orang yang berilmu, tetapi berusahalah pula menjadi orang yang mampu menjaga sikap dan perilakunya. Hormati proses belajar, hargai guru dan sesama pencari ilmu, serta jangan malu mengakui bahwa masih ada banyak hal yang perlu dipelajari.
Sebab, ilmu yang baik bukan hanya memperluas wawasan, melainkan juga seharusnya membantu membentuk pribadi yang lebih bijaksana, rendah hati, dan bertanggung jawab.
Wallahu a‘lam bish-shawab.