Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Keutamaan Umrah dan Keistimewaan Beribadah di Tanah Suci


 Ada kerinduan yang sulit dijelaskan ketika nama Makkah dan Madinah disebut. Bagi sebagian orang, melihat Ka’bah melalui foto atau video saja sudah cukup menumbuhkan keinginan untuk suatu saat menjadi tamu Allah di Tanah Suci.

Umrah bukan sekadar perjalanan menuju Makkah. Ia merupakan ibadah yang di dalamnya terdapat rangkaian pengorbanan, doa, zikir, dan usaha mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, Rasulullah ﷺ menjelaskan sejumlah keutamaan haji dan umrah dalam beberapa hadis.

Umrah Menjadi Sebab Penghapus Dosa

Salah satu keutamaan umrah disebutkan Rasulullah ﷺ:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

“Antara satu umrah dan umrah berikutnya menjadi kafarat bagi dosa yang dilakukan di antara keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut memberikan gambaran tentang besarnya keutamaan umrah. Ibadah ini menjadi salah satu kesempatan bagi seorang Muslim untuk memperbanyak amal saleh, memohon ampun, dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Perjalanan menuju Tanah Suci juga dapat menjadi momentum untuk melakukan muhasabah. Di tengah kesibukan kehidupan, seseorang terkadang membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak dan bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana ia mendekat kepada Allah?

Haji dan Umrah sebagai Sebab Dihilangkannya Kefakiran dan Dosa

Keutamaan lainnya disebutkan Rasulullah ﷺ:

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

“Ikutilah antara haji dan umrah, karena keduanya menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana alat pandai besi menghilangkan kotoran besi.” (HR. Tirmidzi).

Hadis tersebut tidak berarti setiap orang yang melaksanakan haji atau umrah secara otomatis akan menjadi kaya. Rezeki tetap berada dalam ketentuan Allah. Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa haji dan umrah memiliki keutamaan sebagai sebab dihilangkannya kefakiran dan dosa.

Karena itu, keberkahan ibadah tidak selalu dapat diukur melalui perubahan materi. Seseorang mungkin pulang dari Tanah Suci dengan keadaan ekonomi yang sama, tetapi membawa hati yang lebih tenang, keyakinan yang lebih kuat, dan semangat beribadah yang lebih baik.

Umrah pada Bulan Ramadan

Ramadan merupakan bulan yang penuh dengan keutamaan. Pada bulan ini, seorang Muslim berlomba-lomba memperbanyak amal saleh. Salah satu ibadah yang memiliki keutamaan khusus pada bulan Ramadan adalah umrah.

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Ummu Sinan:

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً

“Apabila Ramadan datang, maka berumrahlah, karena umrah pada bulan tersebut senilai dengan haji.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan tersebut bukan berarti umrah pada bulan Ramadan menggugurkan kewajiban haji bagi orang yang telah memenuhi syarat wajib haji. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah kesamaan dalam keutamaan atau pahala, bukan menggantikan kewajiban haji.

Keistimewaan itu tentu menjadi kabar gembira bagi seorang Muslim yang mendapatkan kesempatan beribadah di Tanah Suci pada bulan Ramadan. Di sana ia dapat menggabungkan berbagai bentuk ibadah, seperti puasa, salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, dan melaksanakan rangkaian ibadah umrah.

Keutamaan Salat di Masjidil Haram

Di antara keutamaan yang berkaitan dengan perjalanan umrah adalah kesempatan melaksanakan salat di Masjidil Haram.

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

“Salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu salat di masjid lainnya.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad).

Keutamaan tersebut menunjukkan kedudukan Masjidil Haram sebagai salah satu tempat ibadah yang memiliki keistimewaan besar dalam Islam.

Bagi orang yang baru pertama kali datang ke Makkah, pengalaman melihat Ka’bah secara langsung tentu dapat menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Apa yang selama ini hanya dilihat melalui foto, televisi, atau layar ponsel, pada akhirnya dapat disaksikan dengan mata sendiri.

Namun, keutamaan tersebut seharusnya tidak berhenti pada rasa haru. Kesempatan berada di Masjidil Haram semestinya menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan ketakwaan.

Keutamaan Salat di Masjid Nabawi

Perjalanan umrah sering kali dilanjutkan dengan mengunjungi Madinah dan Masjid Nabawi. Masjid yang dibangun oleh Rasulullah ﷺ tersebut memiliki keutamaan tersendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

“Salat di masjidku ini lebih utama daripada seribu salat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Madinah memiliki kedudukan khusus dalam sejarah Islam. Di kota inilah Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Muslim, berdakwah, dan menjalani sebagian besar masa kenabiannya setelah hijrah.

Karena itu, mengunjungi Masjid Nabawi bukan sekadar perjalanan wisata religi. Bagi seorang Muslim, perjalanan tersebut dapat menjadi kesempatan untuk mengingat kembali perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat dalam menyebarkan ajaran Islam.

Raudhah, Bagian dari Taman Surga

Salah satu tempat yang banyak dirindukan jamaah di Masjid Nabawi adalah Raudhah. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا بَيْنَ بَيْتِي وَمِنْبَرِي رَوْضَةٌ مِنْ رِيَاضِ الْجَنَّةِ

“Antara rumahku dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut menunjukkan keutamaan tempat yang berada di antara rumah Rasulullah ﷺ dan mimbar beliau.

Ketika mendapatkan kesempatan berada di Raudhah, seorang Muslim dapat memperbanyak salat, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan berdoa kepada Allah dengan tetap memperhatikan ketertiban serta tidak mengganggu jamaah lainnya.

Yang terpenting bukan sekadar berhasil memasuki Raudhah, tetapi bagaimana kesempatan tersebut menjadi bagian dari perjalanan spiritual untuk semakin mendekat kepada Allah.

Jangan Hanya Menyimpan Kerinduan

Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengunjungi Tanah Suci. Ada yang telah berkali-kali datang, ada yang sedang mempersiapkan perjalanan, dan ada pula yang baru sebatas menyimpan keinginan.

Bagi orang yang belum mendapatkan kesempatan, kerinduan tersebut tidak perlu membuat seseorang berputus asa. Doa dan ikhtiar tetap dapat dilakukan.

Bisa jadi hari ini seseorang hanya mampu melihat Ka’bah melalui layar. Ia hanya dapat mendengar talbiyah melalui rekaman atau video. Makkah dan Madinah mungkin masih sebatas nama yang disebut dalam doa.

Namun, kesempatan itu bisa saja terbuka pada waktu yang tidak disangka-sangka.

Karena itu, kerinduan kepada Tanah Suci sebaiknya tidak hanya diwujudkan dengan keinginan untuk sampai ke sana. Kerinduan tersebut juga perlu diwujudkan melalui usaha memperbaiki ibadah dan akhlak sejak sekarang.

Pada akhirnya, perjalanan umrah bukan hanya tentang sampainya seseorang ke Makkah dan Madinah. Lebih dari itu, perjalanan tersebut diharapkan menjadi sarana untuk semakin dekat kepada Allah dan membawa perubahan dalam kehidupan setelah kembali ke tanah air.

Semoga Allah memberikan kesempatan kepada kita untuk mengunjungi Baitullah dan Masjid Nabawi, serta menjadikan perjalanan tersebut sebagai perjalanan yang penuh keberkahan.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا زِيَارَةَ بَيْتِكَ الْحَرَامِ وَمَسْجِدَ نَبِيِّكَ ﷺ

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami kesempatan untuk mengunjungi Baitullah yang mulia dan Masjid Nabi-Mu ﷺ.”

Amin.


Lokasi Kami