Jangan Merasa Lebih Baik dari Orang Lain Karena Ibadah
Namun, nikmat dapat berubah menjadi ujian ketika seseorang mulai merasa dirinya lebih baik daripada orang lain. Perasaan tersebut mungkin tidak selalu terlihat dalam bentuk kesombongan yang terang-terangan. Terkadang ia muncul secara perlahan melalui hati: merasa ibadahnya lebih baik, merasa ilmunya lebih tinggi, merasa kehidupannya lebih berhasil, atau menganggap orang lain tidak sebaik dirinya.
Padahal, manusia tidak pernah benar-benar mengetahui bagaimana kedudukan seseorang di hadapan Allah.
Kesombongan Bermula dari Hati
Islam memberikan peringatan keras terhadap kesombongan. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan seberat zarrah.”
Seorang sahabat kemudian bertanya tentang seseorang yang senang memakai pakaian dan sandal yang bagus. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kemudian beliau menjelaskan bahwa kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.
(HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kesombongan bukan sekadar tentang pakaian, harta, atau penampilan. Seseorang dapat terlihat sederhana tetapi menyimpan kesombongan dalam hatinya ketika ia merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Merasa Lebih Baik Bisa Menjadi Penyakit Hati
Perasaan lebih baik dari orang lain sering kali muncul karena seseorang membandingkan kelebihan dirinya dengan kekurangan orang lain.
Misalnya, seseorang yang rajin beribadah melihat orang lain yang masih lalai, kemudian berpikir, “Aku jauh lebih baik darinya.”
Seseorang yang memiliki ilmu melihat orang lain yang tidak memahami suatu persoalan, kemudian merasa dirinya lebih mulia.
Atau seseorang yang memiliki kehidupan lebih mapan melihat orang yang sedang mengalami kesulitan, lalu menganggap dirinya lebih sukses.
Masalahnya bukan pada memiliki kelebihan. Masalahnya adalah ketika kelebihan tersebut membuat seseorang merendahkan orang lain.
Allah Swt. berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka yang diperolok-olokkan lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak boleh merasa dirinya lebih tinggi hanya berdasarkan apa yang tampak.
Kita Tidak Pernah Tahu Akhir Perjalanan Seseorang
Salah satu alasan mengapa kita tidak pantas merasa lebih baik daripada orang lain adalah karena kita tidak mengetahui akhir kehidupan seseorang.
Seseorang yang hari ini terlihat jauh dari agama bisa saja mendapatkan hidayah dan menjadi pribadi yang sangat dekat dengan Allah di kemudian hari.
Sebaliknya, seseorang yang hari ini terlihat rajin beribadah juga harus tetap berhati-hati karena ujian kehidupan dapat datang kapan saja.
Karena itu, seorang Muslim sebaiknya lebih sibuk memperbaiki dirinya daripada menilai kedudukan orang lain.
Kita boleh mengajak kepada kebaikan. Kita boleh memberikan nasihat. Namun, kita tidak boleh dengan mudah menganggap diri kita lebih suci atau lebih mulia daripada orang lain.
Allah Swt. berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.”
(QS. An-Najm: 32)
Ibadah Pun Bisa Menjadi Jalan Kesombongan
Hal yang cukup berbahaya adalah ketika seseorang merasa lebih baik justru karena amal ibadahnya.
Rajin membaca Al-Qur'an, sering bersedekah, menghadiri majelis ilmu, menghafal Al-Qur'an, atau menjaga ibadah tentu merupakan kebaikan. Tetapi semua amal tersebut seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin mudah merendahkan orang lain.
Semakin seseorang mengenal Allah, seharusnya semakin ia menyadari kelemahan dirinya.
Ia akan memahami bahwa kemampuan untuk beribadah pun merupakan pertolongan dari Allah. Jika Allah tidak memberikan kesehatan, waktu, kesempatan, dan hidayah, seseorang tidak akan mampu melakukan kebaikan apa pun.
Karena itu, amal saleh seharusnya melahirkan syukur dan tawadhu, bukan kesombongan.
Jangan Menganggap Orang Lain Tidak Berharga
Setiap manusia memiliki perjuangan yang tidak selalu terlihat. Kita mungkin melihat seseorang yang hidupnya berantakan, tetapi tidak mengetahui masalah yang sedang ia hadapi.
Kita mungkin melihat seseorang yang belum memahami agama, tetapi tidak mengetahui perjalanan hidupnya.
Kita mungkin melihat seseorang yang melakukan kesalahan, tetapi tidak mengetahui usaha yang sedang ia lakukan untuk memperbaiki dirinya.
Karena itu, jangan terburu-buru memberikan penilaian.
Bukan berarti kita harus membenarkan semua kesalahan. Kesalahan tetap harus diakui sebagai kesalahan. Namun, membenci suatu perbuatan tidak berarti kita boleh menghina atau merasa lebih mulia daripada pelakunya.
Belajar Tawadhu dari Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling mulia, tetapi beliau tidak hidup dengan kesombongan. Beliau tetap memperhatikan orang-orang yang lemah, duduk bersama para sahabat, membantu keluarganya, dan memperlakukan manusia dengan penuh kasih sayang.
Sikap tersebut menjadi pelajaran bahwa kemuliaan tidak membuat seseorang harus merendahkan orang lain.
Justru semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula seharusnya kerendahan hati yang ia tunjukkan.
Bagaimana Cara Menghindari Perasaan Lebih Baik?
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menjaga hati.
Pertama, ingat bahwa semua kelebihan berasal dari Allah. Ilmu, harta, kesehatan, kemampuan, dan kesempatan berbuat baik semuanya merupakan nikmat.
Kedua, ingat kekurangan diri sendiri. Tidak ada manusia yang sempurna. Ketika melihat kekurangan orang lain, kita juga perlu mengingat bahwa diri kita memiliki kekurangan yang mungkin tidak diketahui orang lain.
Ketiga, jangan mudah membandingkan amal. Kita tidak pernah mengetahui kualitas amal seseorang di hadapan Allah. Amal yang terlihat sedikit bisa saja memiliki keikhlasan yang besar.
Keempat, biasakan mendoakan orang lain. Ketika melihat seseorang melakukan kebaikan, doakan agar Allah menambah kebaikannya. Ketika melihat seseorang melakukan kesalahan, doakan agar Allah memberikan hidayah kepadanya.
Kelima, sibukkan diri dengan memperbaiki diri. Waktu yang digunakan untuk menilai kehidupan orang lain akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk memperbaiki akhlak dan ibadah sendiri.
Jangan Sampai Kelebihan Menjadi Penghalang Menuju Allah
Merasa lebih baik daripada orang lain adalah penyakit hati yang terkadang sulit disadari. Seseorang mungkin merasa sedang menjaga agama, padahal tanpa sadar ia sedang merendahkan orang lain.
Karena itu, setiap kali hati mulai berkata, “Aku lebih baik daripada dia,” sebaiknya kita segera mengingat bahwa hanya Allah yang mengetahui isi hati, keikhlasan, dan akhir kehidupan setiap manusia.
Boleh jadi orang yang kita anggap rendah memiliki amal yang tidak kita ketahui. Boleh jadi doa yang ia panjatkan lebih ikhlas daripada doa kita. Dan boleh jadi Allah memberikan kepadanya kedudukan yang jauh lebih tinggi karena ketulusan yang tidak pernah terlihat oleh manusia.
Pada akhirnya, tugas seorang Muslim bukanlah mencari siapa yang lebih baik daripada dirinya. Tugas kita adalah terus memperbaiki diri, memperbanyak amal, menjaga hati, dan berharap agar Allah menerima semua kebaikan yang kita lakukan.
Semakin banyak kelebihan yang Allah berikan, seharusnya semakin besar pula rasa syukur dan kerendahan hati kita. Sebab kemuliaan di sisi Allah bukan karena kita merasa lebih baik daripada orang lain, melainkan karena ketakwaan yang benar-benar ada di dalam hati.
Wallahu a'lam.
