Warisan Perilaku Orang Tua dalam Membentuk Masa Depan Anak
Apa yang dilakukan orang tua di dalam rumah sering kali menjadi pelajaran pertama bagi anak. Cara berbicara, kebiasaan beribadah, cara memperlakukan orang lain, hingga bagaimana menghadapi masalah akan diamati dan secara perlahan membentuk karakter anak. Karena itu, orang tua sebenarnya sedang memberikan teladan setiap hari, baik disadari maupun tidak.
Anak dapat tumbuh dengan membawa banyak kebaikan yang dibiasakan oleh orang tuanya. Namun, sebaliknya, kebiasaan buruk yang terus-menerus diperlihatkan di hadapan anak juga berpotensi memberikan pengaruh terhadap perkembangan akhlak dan perilakunya.
Pengaruh Amal Orang Tua terhadap Anak
Dalam pembahasan mengenai pendidikan anak, Mustafa bin 'Adawi bin Ahmad al-Syalbayah menjelaskan pentingnya kesalehan orang tua terhadap kehidupan keturunannya. Dalam Fiqh Tarbiah al-Abna' disebutkan:
لِصَلاحِ الْوَالِدَيْنِ وَأَعْمَالِهِمَا الصَّالِحَةِ عَظِيمُ الْأَثَرِ فِي صَلاحِ الْأَبْنَاءِ وَنَفْعِهِمْ فِي الدُّنْيَا، بَلْ وَفِي الْآخِرَةِ كَذَلِكَ
Artinya: “Keshalehan kedua orangtua dan amal-amal saleh mereka memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk keshalehan anak-anak dan memberi manfaat bagi mereka di dunia, bahkan juga di akhirat.”
Keterangan tersebut memberikan gambaran bahwa kesalehan orang tua memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan anak. Ketika seorang ayah dan ibu terbiasa menjaga shalat, berkata jujur, menjaga lisan, menghormati orang lain, serta membiasakan diri melakukan kebaikan, anak akan mendapatkan lingkungan yang mendukung pertumbuhan akhlaknya.
Pengaruh tersebut tidak hanya muncul karena anak melihat dan meniru perilaku orang tua. Doa, pendidikan, dan keberkahan dari amal saleh orang tua juga menjadi bagian dari ikhtiar dalam membentuk kehidupan keluarga yang baik.
Sebaliknya, kebiasaan buruk yang dilakukan secara terus-menerus juga dapat memberikan dampak yang tidak baik terhadap anak. Mustafa al-Syalbayah menjelaskan:
وَكَذَلِكَ فَلِلْأَعْمَالِ السَّيِّئَةِ وَالْمُوبِقَاتِ الَّتِي يَقُومُ بِهَا الْآبَاءُ وَالْأُمَّهَاتُ أَثَرٌ سَيِّئٌ عَلَى تَرْبِيَةِ الْأَبْنَاءِ
Artinya: “Demikian pula, perbuatan-perbuatan buruk dan dosa-dosa besar yang dilakukan oleh para ayah dan ibu memiliki pengaruh buruk terhadap pendidikan dan pembinaan anak-anak.”
Orang tua yang terbiasa berbohong, berkata kasar, meremehkan ibadah, atau menunjukkan perilaku buruk di hadapan anak dapat memberikan contoh yang kurang baik. Anak mungkin menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang normal karena itulah yang sering ia lihat sejak kecil.
Karena itu, pendidikan anak sebenarnya tidak hanya berlangsung ketika orang tua memberikan nasihat. Perilaku orang tua sendiri merupakan bentuk pendidikan yang terus berjalan setiap hari. Anak mungkin lupa terhadap banyak nasihat yang pernah diberikan, tetapi kebiasaan yang mereka lihat berulang kali dapat melekat kuat dalam dirinya.
Pelajaran dari Kisah Nabi Khidr dan Dua Anak Yatim
Gambaran mengenai pengaruh kesalehan orang tua terhadap keturunannya juga dapat kita renungkan melalui kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr yang Allah Subhanahu wa Ta'ala abadikan dalam Surah Al-Kahfi.
Ketika Nabi Khidr menjelaskan alasan mengapa beliau memperbaiki sebuah dinding tanpa meminta imbalan, beliau menerangkan bahwa dinding tersebut merupakan milik dua anak yatim. Di bawahnya terdapat harta yang menjadi hak mereka. Allah menjaga harta tersebut hingga mereka tumbuh dewasa.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَاَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَانَ تَحْتَه كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَانَ اَبُوْهُمَا صَالِحًاۚ
Artinya: “Adapun dinding (rumah) itu adalah milik dua anak yatim di kota itu dan di bawahnya tersimpan harta milik mereka berdua, sedangkan ayah mereka adalah orang saleh.”
(QS. Al-Kahfi: 82)
Peristiwa tersebut menunjukkan adanya perhatian Allah terhadap dua anak yatim tersebut. Harta mereka tetap terjaga hingga tiba waktu yang tepat bagi mereka untuk mengambilnya.
Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat tersebut juga menerangkan:
وَقَوْلُهُ: ﴿وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا﴾ فِيهِ دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الرَّجُلَ الصَّالِحَ يحفظ في ذريته وتشمل بركة عِبَادَتِهِ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، بِشَفَاعَتِهِ فِيهِمْ وَرَفْعِ دَرَجَتِهِمْ إِلَى أَعْلَى دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ لِتَقَرَّ عَيْنُهُ بِهِمْ
Artinya: “Ayat ini menjadi dalil bahwa seorang laki-laki yang saleh, maka Allah Swt. akan menjaga keturunannya. Keberkahan ibadahnya akan bermanfaat bagi keturunan, baik di dunia atau akhirat, dengan syafaatnya untuk mereka, dan diangkatnya derajat mereka ke derajat yang lebih tinggi di surga agar ia merasa bahagia (dengan berkumpulnya mereka).”
(Tafsir al-Quran al-'Azhim, juz 05, hal. 186)
Kisah tersebut memberikan pelajaran yang sangat berharga. Kesalehan orang tua bukan hanya memberikan manfaat bagi dirinya sendiri. Dengan izin Allah, kebaikan tersebut dapat menjadi sebab datangnya perlindungan dan keberkahan bagi anak-anaknya.
Dalam sebagian penjelasan ulama bahkan disebutkan bahwa jarak generasi antara dua anak yatim tersebut dengan ayah mereka yang saleh mencapai beberapa keturunan:
وَكَانَ بَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الْأَبِ الَّذِي حُفِظَا بِهِ سَبْعَةُ آبَاءٍ
Artinya: “Dan antara keduanya dengan ayah yang karenanya mereka berdua dijaga (oleh Allah) terdapat tujuh generasi (keturunan).”
Keterangan ini menjadi pengingat bahwa kebaikan seseorang dapat meninggalkan pengaruh yang panjang. Apa yang dilakukan oleh orang tua hari ini mungkin tidak langsung terlihat hasilnya, tetapi bisa menjadi bagian dari kebaikan yang dirasakan oleh anak dan keturunannya di kemudian hari.
Orang Tua Adalah Teladan Pertama bagi Anak
Karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa setiap perilaku mereka memiliki nilai pendidikan. Ketika anak melihat ayah dan ibunya menjaga shalat, membaca Al-Qur'an, berkata dengan lembut, menghormati orang lain, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan, semua itu secara perlahan menjadi contoh bagi mereka.
Begitu pula sebaliknya. Kebiasaan buruk yang terus diperlihatkan di dalam keluarga dapat menjadi sesuatu yang dianggap biasa oleh anak.
Maka, membangun generasi yang baik tidak cukup hanya dengan memberikan nasihat. Orang tua juga perlu berusaha menjadi pribadi yang ingin mereka lihat dalam diri anak-anaknya. Jika menginginkan anak yang rajin beribadah, orang tua harus terlebih dahulu menunjukkan kecintaan terhadap ibadah. Jika menginginkan anak yang jujur, orang tua harus membiasakan kejujuran. Jika menginginkan anak yang santun, maka kesantunan harus dimulai dari rumah.
Pada akhirnya, warisan terbesar yang dapat diberikan orang tua bukan hanya harta yang akan ditinggalkan setelah mereka tiada. Akhlak yang baik, ilmu yang bermanfaat, kebiasaan beribadah, dan keteladanan juga merupakan bekal yang sangat berharga bagi generasi berikutnya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita sebagai orang tua yang mampu memberikan teladan terbaik bagi anak-anak. Semoga amal saleh, doa, dan pendidikan yang kita berikan menjadi sebab tumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan bermanfaat bagi agama serta masyarakat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
