Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ketika Ilmu Tidak Diamalkan: Peringatan dalam Hadis


 Ilmu merupakan salah satu nikmat besar yang Allah Subhanahu wa Ta'ala berikan kepada manusia. Dengan ilmu, seseorang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah, mengetahui mana yang halal dan haram, serta memahami bagaimana seharusnya menjalani kehidupan sesuai dengan tuntunan agama. Karena itulah, kedudukan orang yang berilmu sangat dimuliakan dalam Islam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Mujadalah ayat 11:

يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ

"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

(QS. Al-Mujadalah: 11)

Ayat tersebut menunjukkan betapa tingginya kedudukan ilmu. Namun, kemuliaan ilmu tidak berhenti pada seberapa banyak seseorang mengetahui atau menghafal sesuatu. Ilmu seharusnya membawa perubahan dalam diri seseorang. Semakin banyak ilmu yang dipelajari, seharusnya semakin baik pula akhlak, ibadah, dan perilakunya.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

"Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim."

(HR. Ibnu Majah)

Hadis ini menjadi pengingat bahwa seorang muslim tidak boleh berhenti belajar. Akan tetapi, proses menuntut ilmu bukan hanya bertujuan untuk menambah pengetahuan. Ilmu yang dipelajari harus memberikan manfaat dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah At-Taubah ayat 122 tentang pentingnya memperdalam ilmu agama dan kemudian memberikan peringatan kepada masyarakatnya. Ini menunjukkan bahwa ilmu memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengetahui. Ilmu diharapkan dapat memberikan petunjuk, memperbaiki perilaku, dan membawa seseorang semakin dekat kepada Allah.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa ilmu adalah sebuah amanah.

Seseorang mungkin mengetahui pentingnya shalat, tetapi jika ia tetap meninggalkannya, maka pengetahuan tersebut belum memberikan perubahan pada dirinya. Seseorang mungkin mengetahui bahwa berkata kasar adalah perbuatan yang buruk, tetapi jika lisannya tetap digunakan untuk menyakiti orang lain, maka ilmunya belum benar-benar diwujudkan dalam amal.

Karena itulah, para ulama memberikan perhatian besar terhadap bahaya ilmu yang tidak diamalkan.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ اللهُ بِعِلْمِهِ

"Manusia yang paling berat siksaannya pada hari kiamat adalah seorang yang berilmu tetapi ilmunya tidak memberikan manfaat kepadanya."

Riwayat ini perlu dipahami dengan hati-hati. Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan tentang "manusia yang paling berat siksaannya" tidak berarti setiap orang berilmu secara otomatis termasuk di dalamnya. Yang dimaksud adalah orang-orang tertentu yang mengetahui kebenaran, tetapi justru meninggalkan apa yang telah diketahuinya dan tidak mengambil manfaat dari ilmu tersebut.

Dengan kata lain, masalahnya bukan pada banyaknya ilmu yang dimiliki, tetapi pada bagaimana ilmu tersebut digunakan.

Al-San'ani menjelaskan bahwa seseorang yang mengetahui sesuatu yang bermanfaat tetapi sengaja meninggalkannya, sementara ia mengetahui pula bahaya dari sesuatu yang buruk namun tetap melakukannya, berada dalam keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Sebab, ia bukan tidak mengetahui kebenaran, melainkan mengetahui tetapi tidak mau menjalankannya.

Hal ini seharusnya menjadi renungan bagi setiap orang yang sedang menuntut ilmu.

Jangan sampai kita rajin menghadiri majelis ilmu, membaca buku, menghafal hadis, mempelajari Al-Qur'an, atau mendengarkan nasihat, tetapi semua itu hanya berhenti sebagai pengetahuan di kepala. Ilmu seharusnya terlihat dalam sikap dan perbuatan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memberikan gambaran tentang orang yang memiliki pengetahuan tetapi tidak mengambil manfaat darinya. Dalam Surah Al-Jumu'ah ayat 5, Allah memberikan perumpamaan:

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا

"Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak mengamalkannya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab."

Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa banyaknya pengetahuan tidak akan memberikan manfaat apabila tidak diwujudkan dalam kehidupan.

Hal yang sama juga berlaku bagi seorang muslim. Memiliki banyak pengetahuan agama bukanlah jaminan seseorang menjadi lebih baik jika ilmu tersebut tidak membentuk akhlak dan amalnya.

Selain mengamalkan ilmu, Islam juga mengajarkan agar ilmu yang bermanfaat tidak disembunyikan dari orang yang membutuhkannya. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَتَمَ عِلْمًا أَلْجَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

"Barang siapa menyembunyikan ilmu, maka Allah akan memasangkan kekang dari api kepadanya pada hari kiamat."

(HR. Abu Dawud)

Namun, hadis ini juga perlu dipahami sesuai penjelasan para ulama. Ancaman tersebut berkaitan dengan ilmu yang memang wajib disampaikan ketika seseorang membutuhkannya, bukan berarti setiap ilmu harus selalu disampaikan kepada setiap orang dalam segala keadaan.

Dari sini kita dapat memahami bahwa ilmu memiliki dua tanggung jawab besar: diamalkan dan, ketika memang menjadi kewajiban untuk menyampaikannya, diajarkan kepada orang lain.

Ilmu yang diamalkan akan membentuk pribadi. Pengetahuan tentang kesabaran akan melahirkan sikap sabar. Ilmu tentang menjaga lisan akan membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara. Pengetahuan tentang sedekah akan mendorong seseorang untuk berbagi. Ilmu tentang akhlak akan terlihat dari bagaimana ia memperlakukan orang tua, guru, teman, dan orang-orang di sekitarnya.

Karena itu, jangan hanya bertanya, "Berapa banyak ilmu yang sudah saya pelajari?"

Sesekali, tanyakan pula kepada diri sendiri, "Sudah berapa banyak ilmu yang benar-benar saya amalkan?"

Sebab, ilmu yang hanya tersimpan dalam ingatan belum tentu mengubah kehidupan. Tetapi ilmu yang diamalkan dengan ikhlas dapat menjadi jalan menuju kebaikan dan keberkahan.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hati yang mau menerima kebenaran, serta kekuatan untuk mengamalkan setiap ilmu yang telah kita pelajari. Semoga ilmu yang kita miliki tidak hanya menjadi pengetahuan, tetapi menjadi amal saleh yang memberikan manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan menjadi bekal untuk kehidupan akhirat.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Lokasi Kami